Yang Unik dari Kayu Agung

02 Februari

Setiap daerah punya ciri khas tersendiri, yang membuat daerah tersebut berbeda dengan daerah lainnya. Tapi ada juga kesamaan antara satu daerah dengan tempat yang lain, hanya istilah saja yang mungkin membuatnya berbeda.

Sejak saya pindah ke Kayu Agung Sumatera Selatan karena mengikuti suami bertugas, saya mengenal berbagai macam budaya yang ada disini. Budaya yang saya tahu sejauh ini karena saya orang Medan ya saya taunya segala hal tentang Medan, mulai dari logatny sampai kebiasaan penduduk setempat.

Mungkin agak dini sebenarnya saya menyimpulkan yang unik dari kota Kayu Agung ini karena saya belum ada setahun tinggal, tapi gak papa kan dari pada tak tertulis sama sekali, lantas hilang memori tentangnya karena sudah sibuk akan hal lain yang lebih baru.

Lihat juga : Pindah ke Kayu Agung

Berikut adalah hal hal unik yang saya temukan di Kayu Agung dalam pandangan saya sebagai seorang pendatang.

1. Panggilan Sapaan yang berbeda

Sapaan di kota Kayu Agung untuk kakak perempuan dan laki laki itu berbeda dengan yang umumnya kita dengar. Untuk kakak perempuan biasanya dipanggil dengan sebutan Ayuk atau Yuk. Sedangkan untuk laki laki yang lebih tua dipanggil kakak.

Berbeda halnya dengan di tempat saya ataupun daerah pada umumnya di Sumatera yang kakak itu untuk perempuan dan abang untuk laki laki. Jadi jangan harap kita panggil kakak sama saudara perempuan di rumah makan ya, gak akan diladeni hehe.
Rupanya di Palembang pun panggilannya pun hampir sama, hanya logatnya saja yang agak berbeda ketika memanggil kata sapaan tersebut.

2. Setiap Rumah Banyak Lemari

Setiap rumah di Kayu Agung memiliki lemari lebih dari satu di rumahnya. Terlebih untuk keluarga yang memiliki anak perempuan. Lemari yang dimaksud disini bukan lemari buku, lemari pakaian ataupun lemari piring di dapur ya, tetapi lemari yang isinya berupa barang antik, dalam bentuk piring kuningan dan piring terawang ( terbuat dari keramik dengan lukisan yang antik )

Lemari REK
Perabot Kuningan
Pic : budayakayuagung blogspot

Lemari REK begitu orang Kayu Agung bilang hanya terdapat di Kayu Agung saja, lemari REK tersebut berukir ornamen emas khas Palembang Sumatera Selatan.
Koleksi lemari REK ini merupakan tradisi mereka secara turun temurun. Menurut cerita dari penduduk setempat, lemari REK yang berisi piring antik tersebut kelak akan digunakan ketika anak perempuan mereka sudah dewasa dan akan segera menikah. Lemari REK tersebut akan digunakan sebagai hantaran kepada pihak laki laki.

Jadi bisa dibayangkan kalau punya 3 anak perempuan, keluarga pun harus menyiapkan lemari REK untuk masing masing anak, bahkan sejak anak perempuannya masih kecil pun mereka sudah mencicil membeli lemarinya, baru kemudian membeli isi perabotannya secara perlahan lahan sampai isi lemari penuh.

3. Gerai Lebih Cepat Tutup

Rata rata gerai yang cepat tutup adalah gerai toko kelontong, supermarket lokal, toko kue , toko grosir dan sebagian rumah makan.
Entah mengapa toko toko tersebut cepat tutup sekitar jam 7 atau 8 malam, akibatnya suasana malam jadi sepi dan sunyi. Hanya pedagang makanan kaki lima yang banyak berjualan.

Berbeda sekali dengan daerah perkotaan yang tokonya agak lama tutup. Menurut saya ini minusnya dari kota Kayu Agung, karena sudah termasuk daerah yang dipadati penduduk, dan bukanlah statusnya sebagai kampung atau desa. keadaan ekonominya kurang mendukung. Seakan akan malam hari kegiatannya dibatasi. Untungnya hari sabtu dan minggu gerai lebih lama tutupnya. Mudah mudahan setahun 2 tahun lagi kondisi Kayu Agung menjadi lebih baik lagi.

4. Hari Kalangan

Hari Kalangan itu seperti hari dimana pasar menjadi sangat ramai, dipadati oleh beragam penjual dari segala penjuru kampung yang berdatangan ke kota untuk berjualan. Kalau di kota lain mungkin sebutannya seperti Pasar Rabu, Pasar Kamis atau Pasar Jum'at ya. Kalau di Jatinangor tempat saya kuliah dulu itu pasar Unpad namanya, yang jualan juga sama, penjual dari segala penjuru datang untuk berjualan khusus dihari itu saja dan mereka jualan di gerbang halaman Unpad Jatinangor.

Lihat juga : 10 Kuliner favorit di Kayu Agung

Kalau di Kayu Agung Hari Kalangan jatuh di hari Sabtu. Beraneka penjual datang berjualan sampai tumpah ke pinggir jalan menjajakan dagangannya dan membuat macet jalanan raya di sekitarnya.
Saya jarang pergi ke pasar pas Hari Kalangan, ramai sekali soalnya. Kondisinya sudah pasti rawan dengan adanya copet yang selalu diperbincangkan penduduk kalau Kayu Agung juga ternyata ada sarang copet. Menurut cerita penduduk di hari kalangan inilah mereka beraksi. Jadi kalau mau belanja mata pun tidak boleh lengah.

5. Kuliner khas kayu agung

Kalau membicarakan kuliner, memang setiap daerah menyajikan makanan yang unik unik seperti di Kayu Agung. Memang karena masih bagian dari Sumatera Selatan, pempek masih merupakan primadona disini. Bahkan setiap anak perempuan di dalam keluarga harus bisa membuat pempek sendiri karena buat pempek adalah tradisi dan juga makanan sehari hari. Selain pempek ada kuliner lain yang khas Kayu Agung yaitu :

Pempek Panggang
Pic : akurat.co.id

  • Pempek panggang - Pempek yang terbuat dari ikan gabus dibentuk seperti penganan ringan. Pempek ini di beri tepung sagu pada bagian depannya, kemudian dibelah tengah dan diisi dengan sambal cuko yang kental.
  • Laksan - Sejenis pempek juga dan terbuat dari ikan gabus. Bentuknya hampir mirip dengan pempek kapal selam, tapi cara penyajiannya dimasak dengan kuah kari santan yang pedas.
  • Buah Hongas - Bukan buah sebenarnya, tapi nama penganan ringan yang terbuat dari pisang kepok, tepung terigu, telur dan juga kelapa parut. Kalau daerah lain mungkin namanya Godok pisang atau cekodok kali ya.
  • Bolu Cupu - Mungkin sesuai namanya Cupu, bahannya pun sederhana. Hanya tepung, telur dan gula. Walaupun sederhana bolu ini menjadi favorit warga Kayu Agung.
  • Pindangan - Rata rata lauk yang dimasak dengan cara dipindang. Pindang itu maksudnya berkuah bening tapi rasanya asam dan segar. Dari Tulang daging sapi, ikan gabus, ikan baung, ikan patin, ikan salai, udang sampai kerang.
  • Kerupuk Kemplang - lagi lagi ikan gabus sebagai bahan dasarnya. Memang ikan gabus cukup banyak dijumpai di Kayu Agung.
  • Sambal Lingkung - Sejenis abon ikan yang oleh penduduk setempat disebut sambal. Terbuat dari ikan gabus yang diiris tipis tipis, kelapa parut, kecap, cabe, bawang, serai dan lada yang disangrai matang hingga berbentuk abon.
  • Es Oyen - Es favorit saya. Es ini terbuat dari kacang merah, alpukat, pipilan jagun, agar merah dan sedikit kuah durian. Rasanya manis segar dan gurih ketika dicoba. Enak dimakan bersama pempek ataupun kue.

Oke segitu saja dulu pandangan unik saya tentang kota Kayu Agung dari soal tradisi, kebiasaan dan kuliner khasnya. Setiap kota mungkin ada kesamaan baik hal kebiasaan dan kulinernya, apalagi kalau daerahnya berdekatan seperti Sumatera selatan, Bengkulu, Jambi dan Lampung.
Kalau ada informasi terbaru tentang kota kecil Kayu Agung ini akan saya tambahkan lagi.

16 komentar:

  1. Kakak Iid, keunikan panggilan itu ya sama dengan di Ende hahaha. Kami campur-campur sih, ada yang manggil kakak laki-laki dengan Abang, ada yang memanggilnya dengan Kakak juga sama kalau manggil kakak perempuan :D Pokoknya semua KAKAK.

    Suka sama keunikan setiap rumah banyak lemari. Semakin banyak lemari, semakin rapi, menurut saya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak tuteh klo versi saya kakak/mba itu panggilan yang lebih sopan kpd perempuan, tapi klo disini saya biasain panggip ayuk ke mereka

      Hapus
  2. Aku baru tau, kalo ada varian pempek panggang, kayanya boleh nih dicoba kalo pas ke Sumsel

    BalasHapus
  3. Wah keren kak. Emang setiap daerah pasti punya keunikan sendiri. Habis baca tadi langsung fokus sama kulinernya. Ikut ngiler😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe memang kuliner ini daya tariknya ya mba :)

      Hapus
  4. Di Bengkulu, panggilannya hampir sama lah kayak di Palembabang. Btw hampir semua kuliner itu alhamdulillah udah kucicip :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh berarti palembang, bengkulu, lampung hampir sama ya mba, mungkin krn daerahnya berdekatan

      Hapus
  5. Ya Allah lemarinya cakep bener. klasik gitu. Kue cupu waaka..... Ajib beneran. Tp kayaknya enak. Duh pengin wisata ke penjuru Indonesia deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga naksir sama lemarinya hehe, ayok mba mampir kesini :)

      Hapus
  6. Ayuk Iid (manggilnya ikutan panggilan sebutan di Kayu Agung) ..., itu pempek panggangnya seumur-umur aku baru lihat kali ini tampilannya.
    Biasanya pempek ya pempek kayak biasanya gitu, lah ini kok ternyata ada juga yang versi panggang.

    Unik ya, sepintas lalu tadi kulihatnya kayak donat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya juga baru tau pas pindah kesini, rasanya enak loh empuk seperti kue mochi+pempek hehe

      Hapus
  7. Jadi pengen kesana kak rei, aku kangen banget sama pempek pengen makan. Apalagi variannya banyak ^^

    BalasHapus
  8. Lagi2 daerah ini. Jadi pengen kesana

    BalasHapus
  9. Malam-malam lihat foto pempek bikin lapar, hu hu.
    Kayu Agung unik juga namanya pun lokalitas warganya. Soal keadi tutup lebih awal apakah berkaitan dengan jam kerja atau keamanan belum dijaga dengan baik? Sepertinya polisi dan warga harus bekerja sama, copet itu jelas sangat meresahkan.
    Ah, kalau baca tulisan yang bahas maaknan bikin saya lapar melulu. Ha ha.

    BalasHapus

Link Hidup tidak diperkenankan di sini.
Mohon untuk dimengerti
Terima Kasih ^_*

Diberdayakan oleh Blogger.