Liburan ke Banda Aceh

03 November

Jalan-jalan memang suatu kegiatan fisik yang paling menyenangkan. Meskipun badan terasa lelah, tapi kalau sudah melihat tempat yang baru yang belum
pernah kita lihat, rasanya lelah terbayarkan.

Hampir setahun yang lalu saya dan keluarga kecil pergi jalan-jalan ke Banda Aceh sambil mengikuti seminar bisnis online yang di adakan disana. Sudah lama sekali tidak kesana, kangen banget sama Banda Aceh, terakhir datang kesana tahun 1994 , sepuluh tahun sebelum bencana Tsunami Aceh yang menggetarkan itu terjadi.

Tentu banyak perubahan disana sini sebelum dan sesudah bencana.
Karenanya banyak tempat tempat baru yang dijadikan spot wisata di Banda Aceh.

Berangkat dari Medan dengan menggunakan Transportasi Umum yaitu Bis Malam Sempati Star Super VIP dengan kursi 2-2 dan harganya sekitar Rp 210.000. Waktu perjalanan sekitar 10-12 jam (kalau tidak macet).

Lihat juga : Jalan jalan ke Medan-Binjai

Bis Double Decker dgn tempat duduk 2 lantai

Kenapa saya milih transportasi bis untuk ke Banda Aceh, bukannya pesawat jawabannya simpel, karena ingin merasakan perjalanan di darat, melihat pemandangan yang terhampar di kiri atau kanan bangku, mengamati kondisi tiap2 kota kecil yang terlewati, dan juga sawah2 atau perkebunan kelapa sawit juga merupakan pemandangan yang seru buat saya.

Sesampainya di Banda Aceh, karena akan mengikuti seminar lebih dulu maka kami (saya dan suami) putuskan untuk mengunjungi satu tempat wisata saja.
Memilih menginap di salah satu Hotel Syariah nan sederhana namun nyaman, kami pun sambil mencari kuliner yang enak yaitu Mie Aceh dan Sop Sumsum Tulang. Tetapi kalau disini ya bukan Mie Aceh namanya Mie goreng aja, tanpa embel2 Aceh hehe.
Memang kalo ga makan di tempat aslinya bukan wisata kuliner namanya ya.
Setelah perut kenyang maka kami pun memulai perjalanan tur. Perjalanan selama di Banda Aceh ini yakni dengan menggunakan Transportasi Taksi Online, Go-car , salah satu layanan dari Gojek untuk kendaraan berupa mobil.

Memakai layanan taksi online untuk jalan-jalan merupakan pilihan yang hemat dibandingkan hanya menggunakan mobil rental untuk wilayah Banda Aceh ini. Tidak perlu khawatir juga akan tersesat kalau di Banda Aceh, sekarang kan juga ada layanan Google Maps yang informasi petanya selalu update.

Mesjid Raya Baiturrahman

Perjalanan kami di mulai dari wisata ke Mesjid Raya Baiturrahman, Landmarknya Banda Aceh. Alhamdulillah, kuasa Allah SWT mesjid ini selamat dari Bencana Tsunami Aceh tahun 2004.

Tidak banyak yang berubah dari mesjid ini. Hanya penambahan di sekitar Mesjid yang banyak dilakukan seperti penambahan lantai keramik di sekitar mesjid, lantai bawah tanah yang lengkap dengan terowongan menuju tempat berwudhu dan sholat serta penambahan payung besar seperti payung di mesjid nabawi.

Renovasi penambahan payung mesjid

Ruang bawah tanah Mesjid Baiturrahman


Museum Tsunami Aceh

Perjalanan hari kedua kami yaitu ke Museum Tsunami Aceh. Museum Tsunami Aceh ini adalah museum yang didirikan secara simbolis untuk mengenang bencana tsunami aceh.

Tempat wisata yang dirancang oleh bapak Ridwan Kamil ini berisi koleksi untuk memperingati korban bencana , dengan mural nama korban bencana di suatu ruangnya, kemudian studio pemutaran video kejadian, Foto2, Diorama kecil kejadian bencana, maket kota sebelum dan sesudah bencana, dan juga pameran budaya Adat Aceh.
Berfoto dengan keluarga kecilku

Monumen PLTD Apung

Monumen ini adalah sebuah Kapal Besar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang terdampar di daratan Banda Aceh karena terseret gelombang pasang sejauh 5 Km ketika bencana Tsunami.

Di dalam Kapal yang dijadikan monumen ini berupa ruangan saksi bisu pergeseran kapal, video2 edukasi tentang terjadinya gelombang pasang tsunami dan video gambaran PLTD Apung.
Di sekitar Kapal terdapat bangunan monumen untuk memperingati korban yang telah tiada, Taman edukasi Tsunami dan juga rumah bekas punya penduduk.
Monumen PLTD Apung

Monumen tsunami pltd apung
Pantai Lampuuk

Pantai yang berada di wilayah Aceh Besar ini dulunya adalah wisata pantai andalan dan selalu ramai pengunjung. Namun setelah bencana Tsunami, yang merenggut sebagian besar penduduk Lampuuk dan ini menjadi trauma bagi mereka, maka tak sedikit dari mereka mengungsi ke tempat yang lebih baik.

Sepanjang saya melihat daerah sana komplek pemukiman penduduk sangat sepi bahkan kosong tetapi aktivitas wisata kembali aktif dengan banyaknya pondok untuk makan ikan bakar, lengkap dengan mushollanya dan tempat parkirnya.

Perjalanan dari kota Banda Aceh menuju pantai Lampuuk ini memakan waktu 45 menit. Cukup lama juga untuk mencapainya. Tetapi setelah melihat kondisi pantai yang bening dan indah membuat rasa suntuk saya karena kelamaan duduk dalam taksi online menjadi riang, kesempatan berfoto selfie tidak akan saya lewatkan kalo sudah melihat pantai, sampai sang suamik pun geleng geleng kepala melihat saya, seperti anak kecil yang baru lihat pantai pikirnya hehe..

Lihat juga : Menelusuri Mesjid Azizi Langkat
Pantai Lampuuk

Berwisata ke Banda Aceh kalau hanya 3 malam 2 hari mana terasa, apalagi kalau ingin menyeberang ke kota Sabang Pulau Weh, tambah 2 hari lagi lah baru puas berwisatanya, hehehe. Liburan ke Pulau Weh belum terlaksana, mudah2an suatu saat nanti bisa menginjakkan kaki ke Tugu Nol Kilometer yang sangat terkenal itu, insyaallah..

4 komentar:

  1. Alhamdulillah, yuk jalan2 ke banda aceh lagi :)

    BalasHapus
  2. wahhh penambahan payung mesjidnya mirip seperti di mekkah ya mbak... Salam kenal juga dari #jejakbiru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seperti Payung mesjid Nabawi, di Indonesia yg saya tau mesjid Raya Baiturrahman dan mesjid Agung Semarang saja yang sudah menggunakannya, terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus

Maaf komentar yang mengandung Politik, Sara & Link Hidup tidak diperkenankan di sini.
Mohon untuk dimengerti ya
Terima Kasih ^_*

Diberdayakan oleh Blogger.