Pernah Tinggal di Empat Kota Ini


Untuk Tema hari ini, karena satu dan lain hal saya menggantikannya dengan tema yang lain, ini kali kedua saya mengganti tema untuk Challenge yang di adakan Blogger Perempuan. Berarti hanya tinggal 1 pilihan lagi untuk saya jika ingin mengganti tema, gapapa ya biar beda dikit dari blog lainnya hehehe..

Kalau kemarin saya membahas kota yang saya mimpikan ingin sekali pergi ke sana, sekarang saya akan membahas kota kota yang pernah saya tinggali.
Pengalaman pernah tinggal di berbagai kota membuat saya harus menyesuaikan diri dengan bahasa dan lingkungannya, waktu kecil pas pertama kali pindah saya agak cuek akan hal ini, tetapi pas sudah besar mau tidak mau saya gak boleh cuek dong, saya gak dapat temen nanti.

1. Dumai

Pada pertengahan tahun 1990an saya pindah dari kota besar Jakarta tempat masa TK saya untuk pindah ke kota kecil Dumai. Dumai ini lokasinya di Propinsi Riau. Perjalanan dari Jakarta ke Dumai kalau memakai transportasi darat seperti Mobil atau bis memakan waktu 2 hari 1 malam. Sedangkan kalau memakai transportasi udara yaitu pesawat cukup memakan waktu 1,5 jam saja. Cukup singkat, maka pilihan jatuh ke pesawat.

Tinggal di kota Dumai atau tepatnya di Kelurahan Bukit Datuk selama 8 tahun. Dari saya kelas 3 SD sampai kelas 1 SMA. Kota Dumai alias di Bukit Datuk kata orang kota Minyak, panas udaranya ya ampun beneran deh tiap hari panas banget, klo hujan juga bis dihitung dengan jari, gak heran setiap rumah di Bukit Datuk ini pake ac 2 PK saking panasnya, dan enaknya lisrik gratis jadi lumayan bisa mengirit pengeluaran 😂 .

Bisa dibilang masa remaja abg saya habiskan disini, ngalamin cinta monyet juga disini hihihi. Rata-rata temen saya juga orang pindahan jadi sama sama memiliki pengalaman yang gak jauh beda dengan saya. di Bukit Datuk ini adalah komplek perumahan terbesar di kota Dumai. Komplek Perumahan untuk pekerja PT. Pertamina. Banyak pengalaman menyenangkan tinggal disana. Pergi ke sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda pernah saya alami, sangat menyenangkan deh karena tidak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang. Namun sekarang Bukit Datuk tidak seperti dulu lagi, seperti kota kecil yang mati, karena di tinggalkan oleh sebagian besar penghuni yang juga orang pindahan seperti saya.

2. Jakarta

Akhirnya tahun 1998 kembali lagi mengikuti keluarga besar pindah ke Jakarta, setelah meninggalkan kota ini 8 tahun sebelumnya. Saya pindah ke Jakarta setelah terjadi tragedi kerusuhan bulan Mei waktu itu, alhamdulillah keluarga saya tidak sempat mengalami kejadian gak mengenakkan itu.
Momen yang pas ketika saya pindah lagi ke kota Jakarta adalah pas saya sudah kelas 2 SMA, saya sudah tidak cuek lagi terhadap sekitar, sudah tau bagaimana cara untuk jalan jalan sendiri di kota ini dan bisa beradaptasi dengan baik dengan warga sekitar. 

Di Jakarta ini saya tinggal di Jakarta Timur tepatnya di Pulo Gebang. Pulo gebang berbatasan langsung dengan kota Bekasi Barat. Yang saya suka tinggal di Jakarta adalah banyak tempat tempat yang bisa saya kunjungi selain Mall tentunya. Mengunjungi Dufan, Sea World, Taman mini, Mangga Dua, Pasar Senen hingga ITC Cempaka Mas. Bisa merasakan transportasi darat seperti KRL , Metro mini, Kopaja, Angkot, Bis Patas hingga Busway.
Tinggal di Jakarta gak enaknya itu apa apa serba mahal, makanannya , ongkos naik kendaraannya dan beli pakaian juga. Tapi entah mengapa saya suka sekali tinggal di jakarta, mungkin semuanya serba ada kali ya. Terlepas dari hal yang negatif dari kota jakarta seperti banyaknya jambret, tawuran, dan pernah juga ngalamin pelecehan seksual yang sempat bikin saya stres karenanya, saya tetap suka sama kota Jakarta ini. Kota yang sangat menjanjikan dan penuh dengan kenangan 😊

3. Jatinangor - Bandung

Pernah tinggal di kota ini selama 4 tahun lebih. Yap tinggal dikota ini untuk mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Dulu saya kuliah di Jatinangor tepatnya di Unpad. Sengaja memilih Unpad sebagai tempat pelarian ketika saya merasakan suntuknya tinggal di Jakarta.

Tinggal di Jatinangor berinteraksi dengan penduduk setempat, memahami bahasa yang digunakan sehari hari dan juga beradaptasi dengan makanan khasnya. Alhamdulillah selera makan saya pun cocok dengan makanan di Jatinangor. Kupat tahu, lontong kari dan nasi liwet dengan berbagai lalapan itu saya yang gemari. Jadi pengen lagi ke Jatinangor untuk mengulang memori masa kuliah dulu. Ngumpul bareng temen, sambil kulineran asik banget deh kayaknya hehehe..

Lihat juga : Nostalgia Anak Kos

4. Medan

Pindah ke Medan setelah lulus dari kuliah dan sempat juga merasakan kerja di Jakarta selama 2 tahun, akhirnya saya menyerah juga. Ketika sempat mengalami pengangguran pas tinggal di Jakarta akhirnya saya kembali mengikuti orang tua yang telah pensiun dari kerjanya lalu balik ke kampung tercintanya di Medan.
Awalnya saya tidak suka tinggal di Medan. Terlebih lagi harus menyesuaikan kembali dengan bahasa dan penduduk di Medan ini.

Bingung , kaku dan saya sering membandingkan dengan kota yang lainnya.
Tapi namanya juga butuh untuk mencari pekerjaan ya saya mau gak mau harus bersosialisasi untuk bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Awalnya sulit sih, seperti dalam hal bahasa, kalau di jakarta pembicaraan terdengar sopan dan hormat. Tapi ketika disini agak terkaget kaget dengan logat bahasa yang terdengar kasar dan tidak sopan. Sempat tersinggung juga sih, tapi lama kelamaan kebal juga dan akhirnya terbiasa dengan logat daerah setempat.

Medan juga kota yang sangat saya sukai selain di Jakarta, karena menemukan belahan jiwa di kota ini juga.  Lalu kulinernya juga enak enak mungkin karena lidah sudah terbiasa dengan masakan pedas dan gurih. Kalau gak pedas gak mantap kata orang.

5. Kayu Agung - SumSel

Pindah ke kota Kayu Agung bulan Agustus lalu karena mengikuti suami yang bertugas di sini. Sekarang untuk sementara waktu saya dan keluarga kecil tinggal di kota ini. Kota yang letaknya hanya 1, 5 jam dari kota Palembang, ibukota propinsi Sumatera Selatan. Sampai sekarang saya masih menyesuaikan untuk bahasa dan makanan khasnya. Bahasa Kayu Agung agak mirip dengan bahasa yang dipakai di kota Palembang namun ada juga perbedaannya.

Untuk lebih amannya saya banyak menggunakan bahasa Indonesia ketika berinteraksi, takut salah bicara. Perbedaan penyebutan nama gelar orang pun agak unik di Kayu Agung ini, sampe saya juga sering salah dalam memanggil. Seperi kalau bahasa indonesianya saudara laki laki itu Abang, mas atau kang.  Sedangkan disini untuk panggilannya itu Kakak/kak, sedikit membingungkan karena kakak biasanya untuk perempuan, sedangkan untuk panggilan mbak/kak disini adalah Yuk/ayuk.

Setelah dari Kayu Agung bisa saja saya dan keluarga kecil akan pindah ke kota lainnya karena tuntutan pekerjaan suami. Tapi belajar dari pengalaman, semuanya sekarang saya nikmati saja apa adanya, karena pengalaman pindah berbagai tempat ini bisa jadi hanya sekali seumur hidup. Nikmatilah dan selalu bersyukur 😊

Kalau disuruh pilih untuk menetap di kota mana sampai tua nanti, maka saya akan memilih kota Medan, tidak ada alasan lain tetapi agar lebih dekat dengan keluarga besar saya maupun keluarga besar suami.

#DAY14 #BPN30DayChallenge2018

Tidak ada komentar:

Link Hidup tidak diperkenankan di sini.
Mohon untuk dimengerti
Terima Kasih ^_*

Diberdayakan oleh Blogger.