Menelusuri Mesjid Azizi Peninggalan Kesultanan Langkat

11 April
mesjid azizi tanjung pura langkat

Siang itu saya, anak dan saudara saya sedang berjalan jalan mengelilingi kota kecil Tanjung Pura tempat saudara saya tinggal.
Perjalanan ke Tanjung Pura dari kota Medan hanya memakan waktu tempuh 2 jam saja. Bisa dengan menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan kendaraan umum seperti KPUB atau Murni tujuan ke Pangkalan susu dengan tarif Rp 24000 pulang pergi.

Di Tanjung Pura, ada tempat yang memang ingin saya kunjungi selama ini yang dulunya saya dan keluarga hanya melewatinya saja saat melakukan perjalanan menuju Pulau Kampai, kampung halaman tercinta.

Baca juga : Pulau Kampai Tercinta

Tempat itu adalah Mesjid Azizi, mesjid peninggalan Kesultanan Langkat yang masih tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Menjadi saksi bisu di setiap kejadian yang ada dan juga lalu lalang para peziarah yang ingin mengunjungi makam kesultanan Langkat.
Mesjid Azizi terletak di dalam kota Tanjung Pura, Kabupaten langkat. Berada di pinggir jalan lintas Sumatera yang menghubungkan kota Medan dan Banda Aceh, sehingga lokasinya pun mudah dikenali.

pintu teras mesjid azizi
Teras Mesjid Azizi : dokpri
Mesjid Azizi dibangun pada tahun 1889 oleh Sultan Langkat Haji Musa dan selesai pengerjaannya di tahun 1902. Mesjid ini diresmikan oleh Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat syah, di sinilah nama Mesjid Azizi ini berasal.
Mesjid ini secara arsitektural di pengaruhi oleh gaya Ottoman turki dan Timur Tengah dari sisi serambi dan kaligrafi di pintu terasnya.

Ada kesamaan antara Mesjid Azizi dengan Mesjid Raya Medan ( Mesjid Al-Mashun ) dan Mesjid Al-Osmani yang berada di jalan Yos Sudarso Medan. Yaitu bentuk kubah berwarna hitam yang khas dan juga warna cat dinding yang berwarna kuning, kuning keemasan dan hijau. Menurut warga melayu ada makna dari warna warna ini.

iidyanie berfoto di mesjid azizi
Berpose di teras masjid (dokpri)
Warna hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Warna kuning melambangkan kesucian. Bisa juga bermakna di jaman kesultanan melayu hanya boleh dipakai  oleh para raja/sultan melayu. Demikian juga dengan warna kuning keemasan yang melambangkan kejayaan dan kemegahan, yang mana hanya keluarga raja/sultan yang bisa menggunakannya.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Mesjid seperti Mesjid Azizi, Mesjid Raya Medan dan Mesjid Al Osmani memberikan pengaruh kuat kepada rakyat dengan memberikan kemakmuran dan kejayaan karena dibangun dan diawasi langsung oleh Kesultanan pada masa pendiriannya.

Makam keluarga Kesultanan dan Pahlawan Nasional

makam keluarga kesultanan langkat
Makam keluarga inti Sultan Langkat
(Dokpri)
Seperti yang kita ketahui, pada jaman dulu makam selalu berdekatan dengan mesjid yang didirikan. Begitu pula dengan Mesjid Azizi ini, disebelah kiri pelataran masjid apabila dilihat dari pintu gerbangnya,  terdapat sejumlah kompleks makam kesultanan Langkat. Pada kompleks makam di dalam yang ditandai oleh atap berkubah dan diberi tahta seperti mahkota terdapat makam keluarga inti kesultanan Langkat. Sedangkan pada bagian luar yang tidak disertai atap diatasnya berisi makam keluarga kerabat dekat kesultanan dan juga makam seorang pahlawan nasional yaitu Tengku Amir Hamzah.

makam pahlawan nasional tengku amir hamzah
Makam pahlawan nasional Amir Hamzah
(dokpri)
Tengku Amir Hamzah begitu terdengar akrab ditelinga kita karena beliau adalah salah satu penyair Pujangga Baru. Meski dikenal sebagai seorang tokoh sastrawan pejuang yang namanya dikenal oleh dunia. Amir Hamzah pun juga berasal dari generasi ke-10 keluarga kesultanan Langkat. Sekembalinya dari pendidikan sekolahnya di Solo, ia pun diminta untuk kembali ke Langkat guna mengabdi pada kesultanan Langkat dengan menjadi pejabat pemerintahannya.

Amir Hamzah wafat karena terjadinya revolusi sosial yang digerakkan oleh faksi partai komunis hingga kemudian ia pun dimakamkan dalam makam keluarga kesultanan Langkat dan diberi gelar sebagai pahlawan nasional.

Baca juga : Liburan ke Banda Aceh

Balai Pustaka yang Terlantar

Amir Hamzah wafat dan meninggalkan sejumlah karya sastranya yang tersohor. Hingga pemerintah setempat pun turut memberinya penghargaan dengan membangun gedung museum dan perpustakaan wakaf dari H.Tengku Alwin Aziz yang bernama "Balai Pustaka Tengku Amir Hamzah" yang tepat berdiri di sebelah kanan pelataran Mesjid Azizi.

balai pustaka tengku amir hamzah
Balai Pustaka Tengku Amir Hamzah
( Dokpri )
Isi museum dan perpustakaan tersebut berisi peninggalan koleksi karya sastra juga dokumentasi foto beliau sendiri di masa lalu. Namun sekarang karya sastra beliau sebagian telah berpindah tangan dan tidak tau dimana keberadaannya. Yang tinggal hanyalah beberapa dokumentasi foto yang masih terpampang di dinding. Tampak dari balik jendela kondisi perpustakaan dan bahan pustaka yang tidak terawat dengan baik dan berdebu tebal.

isi di dalam balai pustaka amir hamzah
Penampakan isi balai pustaka (dokpri)
Sungguh disayangkan melihat kondisinya saat ini, seperti layaknya perpustakaan yang ada di mesjid pada umumnya yang tidak terawat, begitupun juga nasib Balai Pustaka yang satu ini.
Saya berharap mudah mudahan Balai Pustaka Tengku Amir Hamzah ini mendapat perhatian yang layak dari pemerintah dan kembali beroperasi untuk dibuka lagi agar para pengagum sastra Amir Hamzah dapat melihat dari dekat koleksi pustaka tersebut dan melestarikan keberadaannya.

Sumber :
wikipedia.org/mesjid_azizi
wikipedia.org/amir_hamzah


22 komentar:

  1. Nahhh bener sekali tuh, harus selalu dijaga dan dirawat agar selalu terjaga kelestariannya... Apalagi sekarang sangat sulit sekali orang sejarahawan, satu-satunya mencari sumber yang real bisa melalui tempatnya langsung, apalagi ada museumnya seperti itu pasti lengkap banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali mas, yg namanya peninggalan itu harus kita jaga

      Hapus
  2. Ajak saya ke sini, kaaaak, ajaaaak. Masjid ada museum dan pepustakaannya juga. Komplit.

    BalasHapus
  3. Sayang ya gedung perpustakaannya terlihat kurang perawatan begitu .., terkesan spooky.
    Semestinya direnov ulang, misal ada bukaan jendela biar kelihatan terang.

    Duuh, kenapa aku mendadak jadi seolah arsitek betulan gini, yaaa ... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar mas banyak yg harus dibenai gedung perpustakaannya karena kan pasti dilihat terus sama pengunjung. Bisa jadi ahli arsitek juga mas :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Iya kak mirip ya dengan masjid Zahir di Kedah Malaysia :)

      Hapus
  5. jadi mesjid kayak tempat wisata sekarang yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas kalo mesjid yg sudah lampau dan terkenal ya efeknya pasti seperti itu :)

      Hapus
  6. Eh,eh,eh cantik nian tempatnya, semoga terus dirawat sampai generasi-generasi berikutnya biar bisa jadi sejarah bangsa

    BalasHapus
  7. Dominan warna kuning yah. Sama seperti yang di pontianak. Istana dan masjidnya dominan warna kuning

    BalasHapus
  8. Aura menarik sangat kental dari masjidnya.. Dan sepertinya nyaman dan sejuk kawasannya meski bekas peninggalan kesultanan tetapi tetap elegan..😄😄

    BalasHapus
  9. sayang sekali balai pustakanya mbak, padahal itu adalah saksi dan bukti sejarah, serta karya para pendahulu kita

    BalasHapus
  10. Kalau nama Amir Hamzah, sudah pasti saya tahu. Jaman saya kuliah, saya sering baca-baca buku sastra terbitan Balai Pustaka. Sayang sekali balai pustaka di sini nggak dirawat, ya. Padahal perpustakaan itu salah satu jendela dunia.

    BalasHapus
  11. wahhh best nyaa.... datang ke sini bukan sahaja dapat beribadah tetapi juga dapat kenal sejarah

    BalasHapus
  12. luar biasa ya kak peninggalan sultan masih terjaga dengan baik, harus dirawat dengan baik agar tidak rusak karena merupakan situs bersejarah ya kak ;)

    BalasHapus
  13. Sayang sekali ya mbak kalau tidak dirawat :" kayak kasihan gitu melihat barang peninggalan bersejarah yang tidak diurus dengan baik :"

    BalasHapus
  14. luas ya masjidnya, cantik juga desainnya
    melihat warnanya td, sekilas memang mirip sama masjid yg di medan itu, ternyata masih bersinambungan mengenai historynya

    BalasHapus
  15. keren nih, adem banget pasti ya.. di masjid sekitar rumahku juga ada balai perpustakaan itu kak, tapi sama nggak terawat..

    BalasHapus

Maaf komentar yang mengandung Politik, Sara & Link Hidup tidak diperkenankan di sini.
Mohon untuk dimengerti ya
Terima Kasih ^_*

Diberdayakan oleh Blogger.