Tentang Pendidikan Anak

06 September
Ada sekelumit cerita saya tentang parenting. Sebenarnya ini sesuatu yang tidak saya kuasai sepenuhnya. Tidak seperti teman blogger yang lain yang mengklasifikasikan diri menjadi parenting blogger. Dunia tentang parenting memang dunia baru bagi saya setelah menikah dan memiliki anak. Ternyata diperlukan pengetahuan cukup tentang itu. Dan selama ini saya ternyata mengabaikannya, sampai kemudian hari ada yang tidak beres dengan kemampuan kognisi anak saya tercinta.

Tahun ini saya di umur anak menginjak usia 3,5 tahun, saya memasukkan anak ke sekolah. Bukan tk paud atau playgrup tapi sekolah terapi. Ya anak saya mengalami keterlambatan bicara (speech delayed).
Beragam cara dicoba tetapi memang dengan sekolah terapi lah yang bisa dilakukan saat ini. Selain melatihnya berkomunikasi dua arah secara aktif di rumah, berinteraksi secara intens pun juga dilakukan.

Baca Juga : Probiotik obat percernaan terbaik bagi anak

Mungkin ada yang berpikir kenapa terlalu cepat saya memasukkannya ke sekolah, kenapa tidak dilatih saja di rumah. Sudah. Semua sudah saya lakukan. Baik melatihnya secara dengan cara sensori dan motorik.
Akan tetapi saya hanyalah manusia biasa. Tidak bisa melakukannya seorang diri. Butuh orang yang ahli dibidangnya untuk melatihnya. Sambil saya terus ikut memantaunya dan dipelajari kembali di rumah.
Memang tidak mudah mendidiknya seorang diri sementara sang ayah sedang bertugas di luar kota yang hanya bisa pulang kampung 3 bulan sekali, itupun kalau diizinkan pulang.

Alhamdulillah tidak butuh waktu yang lama. Terapi kognisi dan okupasi yang tepat berdasarkan usianya membuatnya lebih percaya diri untuk berkomunikasi secara 2 arah baik dengan guru ataupun dengan saya orangtuanya. Sekarang tinggal melatih kepercayaan dirinya agar lebih baik lagi.
Ada beberapa masukan yang diberikan guru sebagai terapis untuk saya dapat mengamalkannya dirumah agar kecerdasan dan komunikasi berjalan dengan baik bagi anak.


Antara lain :

  • Selalu berikan stimulus dalam bentuk membacakan dongeng dan permainan kreatif
  • Membelikannya buku cerita yang kreatif dan menarik perhatian sehingga ia tertarik untuk membacanya 
  • Hindari menggunakan lebih dari 1 bahasa untuk mengajari anak berkomunikasi sejak dini
  • Hindari pemakaian gadget yang berlebihan. 
  • Batasi aturan menonton televisi, maksimal menonton 1 jam sehari.
  • Sebaiknya ajak anak untuk bermain di taman kota dan bukan mengajaknya ke mall
  • Ajak anak untuk mengikuti outbound ataupun berenang atau olahraga lainnya secara bersama-sama
  • Peran orangtua bukan hanya ibu, tapi ayah juga sebaiknya ikut terlibat dengan baik terhadap anak. Peran ayah sangat berarti untuk membangun kecerdasan emosional, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan memberikan motivasi terhadap anak di kemudian hari. Memang hasilnya tidak langsung terlihat, tapi di usia sekolah dan dewasa akan kelihatan hasilnya
  • Luangkan waktu setidaknya seminggu sekali bermain dengan anak di rumah ataupun di luar rumah secara bersama-sama.
Baca Juga : Impetigo penyakit kulit yang menyiksa balita

Tidak perlu saya hiraukan orang menyalahkan saya karena menurutnya sayalah yang bertanggung jawab atas ini, terus menyalahkan diri sendiri akan membuat kepercayaan diri saya akan terkikis. Nasehat orang yang terlalu jumawa pun tidak ingin saya tanggapi. Saya punya solusi sendiri dengan ini yang tentunya saya dapati dari ahlinya.
Waktu terus berjalan.
Masalah tentang parenting ini cukup luas, dan saya akan tetap bersinggungan dengannya sampai sang anak dewasa nanti.
Sekarang yang saya fokuskan adalah pendidikannya. Menemani dan mengantarkannya ke sekolah, mengulang kembali ajaran yang ia dapatkan di sekolah dan berinteraksi secara intens berdua dengannya juga dengan anggota keluarga lainnya.

3 komentar:

  1. Tetap semangat, Mbak. Ujian tiap orang itu berbeda, yang penting kita tetap iktiar dengan beragam cara. Semoga perkembangan si kecil bertambah baik. Jangan biarkan orang lain mendikte hidup kita.
    Langkah Mbak sudah tepat dengan membawanya sekolah khusus yang ditangani oleh para ahlinya.

    BalasHapus
  2. Tetap semangat mba. Orang lain tidak pernah tau apa yang sedang kita jalani. Biasanya mereka mengukur berdasarkan kacamata mereka

    BalasHapus

Link Hidup tidak diperkenankan di sini.
Mohon untuk dimengerti
Terima Kasih ^_*

Diberdayakan oleh Blogger.