Cerita Kenangan Masa Kecil Dari Hutan Dumai

cerita kenangan masa kecil dari hutan dumai


Dulu sewaktu saya menginjak bangku sekolah dasar, mengikuti orang tua yang mutasi kerja dari hiruk pikuknya kota Jakarta menuju kota Dumai, kota minyak yang udaranya panas dan gersang. Itulah kesan pertama kali saya menginjak kota Dumai. Namun kesan itu berbeda ketika akhirya saya dan keluarga tinggal di daerah komplek Bukit Datuk.

Bukit Datuk, daerah yang lumayan jauh ditempuh dari pusat kota. Mungkin sekitar 5-8 km dari kota Dumai. Bukit Datuk tempat saya dan keluarga tinggal daerahnya masih asri sekali. Jarak hutan lindung dengan perumahan hanya 1 km saja. Begitu dekatnya, sehingga setiap pagi terdengar suara binatang yang unik-unik. Seperti suara uwak atau owa ungko, sejenis primata yang berteriak di pagi hari dan suara burung rangkong yang terbang di siang hari dan juga penampakan kucing hutan yang sering muncul di jalan belakang komplek. Burung rangkong adalah burung penebar benih di hutan Indonesia. Saking suaranya cukup khas, saya langsung mengenalinya ketika ia terbang melewati atap rumah, seru sekali mendengarnya. Saya merasakan seperti dekat dengan alam saat itu..kenangan 27 tahun yang lalu yang masih teringat di memori. 

Lalu bertahun-tahun kemudian suara burung rangkong tersebut perlahan mulai sirna. Ada apa gerangan, apakah kehadirannya mulai terancam? kehadiran burung rangkong yang hidup di hutan mencerminkan kondisi hutan yang masih sehat, ini karena burung rangkong membutuhkan beragam pohon buah sebagai sumber makanan dan pohon yang cukup besar dan berlubang untuk tempat bersarang seperti pohon akasia dan lain-lain.

rangkong julang emas penghuni hutan wisata dumai
Rangkong Julang Emas salah satu penghuni hutan TWS Dumai
Foto : kacer.co.id


Setelah burung rangkong yang jarang nampak lagi paruhnya, binatang-binatang liar mulai bermunculan dekat rumah saya sehubungan pula dengan datangnya kabut asap tebal akibat kebakaran hutan untuk dijadikan lahan pertanian di hutan Dumai yang jaraknya tidak jauh dari komplek Bukit Datuk. Jejak kaki harimau sumatera atau sering kami sebut dengan datuk, kemunculan ular, kalajengking dan binatang liar lainnya yang membuat saya dan keluarga harus ekstra hati-hati menjaga rumah dari binatang-binatang liar tersebut.

hutan wisata sungai dumai
Hutan Wisata sungai Dumai


Usut punya usut mengapa binatang liar tersebut bermunculan, karena tempat tinggal mereka musnah dan menyerang kami yang berada di dekatnya. Sampai saya pindah dari komplek Bukit Datuk yang penuh memori masa kecil dan remaja, kebakaran hutan dan lahan tetap belum bisa dikendalikan bahkan menyebar sampai ke propinsi tetangga, hingga saat ini karhutla masih saja tetap ada.


Dumai, Langganan Kebakaran Hutan

Mungkin sudah banyak yang tahu, bahwa Dumai merupakan daerah yang sering didengar karena berita karhutla. Sampai kini, Hutan di Dumai masih saja terdampak akibat karhutla ini, bahkan sampai menyebar ke hutan wisata yang jelas-jelas dilarang untuk digunakan lahannya. Tetapi bukan hanya Dumai, Kebakaran hutan dan lahan wilayah juga terdapat di Rohil, Siak, Meranti, Kampar, hingga Pelalawan. Dumai rawan karhutla karena mempunyai lahan bergambut.

Namun yang saya bahas di sini bukan tentang karhutlanya. Akan tetapi bagaimana program untuk meregenerasi hutan akibat banyak pohon yang ditebang dan dibakar sehingga hutan kembali menjadi habitat asli yang ramah lingkungan bagi binatang liar agar tidak musnah.

kebakaran hutan wisata sungai dumai
Hutan wisata sungai Dumai yang terbakar
Sumber : okezone.com


Banyak pohon di dalam hutan yang ditebang bahkan adanya pembalakan liar dan pohonnya dibakar untuk dijadikan lahan sawit tetapi tidak ditanam kembali agar hutan kembali menjalankan fungsinya. Jika itu terjadi maka dampaknya bukan kebakaran hutan saja, bencana kemarau berkepanjangan, banjir dan longsor pun akan mudah terjadi jika tidak dijaga kelestariannya.

Keberadaan hutan di Dumai bukan hanya untuk masyarakat Dumai, saja tetapi untuk kelangsungan hidup ekosistem dan masyarakat di daerah lainnya yang saling berhubungan. Oleh karena itu sudah seharusnya kita saling melestarikan hutan Indonesia yang ada agar manfaatnya dapat dirasakan juga oleh anak cucu kita nanti.

Adopsi Hutan di Dumai, sudahkah berjalan?

Adopsi Hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun di mana pun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya. (sumber: harihutan.id)

Sebagai bentuk kepedulian akan Hutan Dumai, saat ini berbagai pihak seperti beberapa perusahaan di kota Dumai melalui program CSRnya melakukan kegiatan kelestarian alam melalui adopsi pohon di hutan TWA Sungai Dumai untuk kepentingan perbaikan lingkungan. Kegiatan ini dilakukan pada bulan April 2019 oleh KPA Rimbawan Pesisir Dumai, MAPALA Jagad Biru, MAPALA Umah Pumpun, Satwa Rimba Foundation, KPHP Bagan Siapi-api dan Manggala Agni Daops Dumai.

gerakan adopsi hutan melalui adopsi pohon
Gerakan adopsi hutan melalui adopsi pohon
Sumber : BBKSDA Riau


Lalu pada bulan Oktober 2019 Komunitas Pencinta Alam Dumai dan Duri, Hipam, Serdadu Alam, beberapa sekolah dan tokoh adat setempat melakukan kegiatan menanam pohon yang berjumlah 100 batang terdiri dari pulai, trembesi, mahoni dan durian. Penanaman dilakukan di area terbuka di TWA Sungai Dumai dan sekitarnya. TWA Sungai Dumai juga memiliki ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Harapannya semoga kegiatan adopsi hutan tetap berlangsung hingga saat ini di beberapa hutan wilayah Dumai termasuk hutan bakau Dumai yang kini jadikan tempat wisata alam komersil. Mengajak masyarakat setempat juga ikut terlibat dalam melestarikannya.

Hari Hutan Indonesia

Hari Hutan Indonesia diadakan setiap 7 Agustus. Tahun ini adalah tahun pertama diperingatinya Hari Hutan Indonesia. Berawal dari sebuah petisi di Change.org yang dilakukan oleh organisasi Hutan Itu Indonesia dan ditandatangani hampir 1,5 juta orang dengan misi menumbuhkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap hutan Indonesia dan menjadikan hutan sebagai identitas bangsa Indonesia. 

gerakan adopsi hutan hari hutan indonesia
Adopsi Hutan Hari Hutan Indonesia


Tahun 2020 ini adalah momentum untuk seluruh masyarakat turut bergotong royong dalam menjaga dan melestarikan hutan. Untuk kita yang jauh tetapi ingin ikut serta menjaga hutan Indonesia bisa  memberikan donasi untuk adopsi hutan melalui kitabisa.com/harihutanid


Etika di dalam Hutan

Selain memberikan donasi, sumbangsih kecil lainnya yang harus kita jaga dan lestarikan adalah etika kita di dalam hutan, yang di antaranya :

1. Saat berada di Hutan wisata jagalah sikap dan jangan bertindak vandalisme dengan mencorat-coret pohon

2. Tetap jaga kebersihan hutan dengan tidak membuang sampah sembarangan atau membuang rokok sembarangan

3. Tidak buang air kecil/air besar secara sembarangan

4. Tidak melamun dan tidak berkata sombong di dalam hutan

5. Selalu menjaga norma kesopanan terhadap warga sekitar yang tinggal di wilayah hutan dan juga tidak mengusik binatang setempat bahkan sampai membunuhnya kecuali dalam keadaan bahaya

Jikalau merasa memiliki akan keberadaan hutan sudah sepantasnyalah hutan tersebut kita perlakukan dengan sebaik mungkin, apalagi ikut mematuhi etika yang ada. Benar bukan?

Rasanya ingin kembali ke masa itu melihat hutan begitu lestari lengkap dengan keberadaan flora dan faunanya, kembali melihat burung Rangkong dan suara owa ungko yang terdengar nyaring. Mari kita jaga hutan Indonesia, mari kita adopsi hutan Indonesia.


Sumber : 

- harihutan.id

- http://www.bbksdariau.id/

- https://news.okezone.com/2019/03/12/hutan-konservasi-taman-wisata-alam-sungai-dumai-riau-terbakar

- instagram @doni_ss366 : foto hutan Dumai

- https://iwanvictorleonardo.wordpress.com/tag/hutan-wisata-sungai-dumai/



21 komentar untuk "Cerita Kenangan Masa Kecil Dari Hutan Dumai"

  1. issss liat tahura di berastagi itu aja awak kok ya kasian yakan. mo ke toilet waktu beberapa thn yg lalu terakhir kesana, duuuh....ntahlah gk tauau bilangnya kek mana. kurangnya kepeduliaan kita akan hutan akan sangat berdampak pada kita dan anak cucu kita nanti. semoga dgn adopsi hutan, semua masalah yg selama ini terjadid i indonesia bsa teratasi lah yakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jikalau pemerintah gak sempat mengelolanya sudah seharusnya kita yang memperhatikan, supaya tahura ni tetap ada hingga ke anak cucu, benar bukan?

      Hapus
  2. Kenangan masa kecil yang seru ya kak id..
    Sayangnya gak semua orang mau menjaga. Kadang orang yang prioritas nya uang gak akan segan membakar hutan atau mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari hutan. Sedih sih dengarnya. Apalagi hukuman buat mereka yang nakal belum berlaku tegas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah begitulah kalau sudah masalah uang dan perut, apa pun dihalalkan..sudah seharusnya kita menjaga hutan ni ya kan

      Hapus
  3. Bagus ini etikanya ya Id, salah satunya tidak melamun ketika di dalam hutan. Kuy sama² kita sukseskan gerakan pohon asuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kan menjaga hutan dengan baik juga termasuk etika ya kan..yuk kita informasikan ke siapa aja ttg adopsi hutan ni

      Hapus
  4. membayangkan tinggal dikawasan bukit datuk yg ada rangkong, biasa jumpa rangkong di kebun binatang 😂 cukup2lah hutan itu pernah rusak ya kak, apalagi Indonesia, penyumbang oksigen terbesar. smoga anak muda makin ngerti pentingnya hutan, apalagi habis hari hutan Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup semoga anak muda saat ini turut menyadari pentingnya arti hutan indonesia kita ni karena berpengaruh juga bagi negara lainnya :)

      Hapus
  5. Sedih banget kalau dengar berita hutan kebakaran. Padahal numbuhi pohon itu bukannya sebentar ya kan.

    Apalagi banyak keanekaragaman hayati maupun hewani di dalamnya. Semoga saja ke depannya semakin banyak orang yang memperjuangkan hutan-hutan di Indonesia tetap lestari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya untuk sebuah pohon besar dan kuat butuh bertahun-tahun lama banget kan ;(

      Hapus
  6. Ya ampun kk, ingatan ku ttg dumai ini cm 1, kesana kelas 4 SD di bawa nenekku naik bus dr medan, utk singgah ke rumah sodara dan nyebrang ke batam. Kesan pertama dlu ya panas x kotanya, tp ga pernah tau sama hutannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya panas karena kota minyak haha, kalau tinggal di sana tuh harus pake ac kak

      Hapus
  7. Hutan kita sekarang banyak terlantar dan sering terjadi kebakaran hutan serta penebangan pohon sembarangan. Adopsi hutan ini sangat bagus buat masyarakat sadar akan pentingnya kepedulian terhadap hutan.

    BalasHapus
  8. Wah tulisanny komprehensif id, kereen...btw ak jd kepo, kalau ditempatmu itu yg kebakaran hutanny apakah ada kebun sawitnya kah didekat2 situ?

    BalasHapus
  9. selamat hari Hutan semoga hutan kita di Indonesia ataupun di dunia kembali membaik, dapat dinikmati oleh generasi kita kedepannya, dan semakin banyak orang yang peduli terhadap lingkungan, aamiin

    BalasHapus
  10. Waduh, mimpi buruk jika ketemu datuk karena salah-salah bisa diterkam. Di hutan wilayah Kecamatan Selaawi yang bertetangga dengan kecamatan Balubur Limbangan ini ternyata masih ada datuk. Lalu bagaimana dengan hutan di Gunung Nangkod di seberang lembah dan Sangiang yang di desa sebelah? Keduanya termasuk hutan yang masih rimba sayangnya keberadaan hewan banyak yang tdiganggu kebakaran hutan. Cuma bisa miris saja.
    Saya pernah lihat celeng nyasar ,elintas di seberang kebun dekat rumah saya, berlari menerkang ke depan dengan lurus, entah dari mana muasalnya.

    Di luar rumah alhamdulillah masih ada burung bulu biru yang cantik. Tetapi saya tidak melihat burung rangkong. Mungkin keberadaannya hanya ada di wilayah yang dekat dengan hutan dan banyak buah-buahan. Sekarang banyak pohon buah-buahan yang ditebang untuk permukiman.

    Semoga saja adopsi hutan bisa berlangsung di mana-mana.

    BalasHapus
  11. Waah senangnya bisa lihat hutan yamg cantiiik.. Sungguh penasaran banget dengan burung Rangkong hidup.. Semoga masih ada sampai generasi penerus kita ya....

    BalasHapus
  12. Menyenangkan ya punya kenangan tinggal di lingkungan dekat hutan. Jadi pas ngeliat keadaan hutan Indonesia saat ini, bisa kebayang sedih hatinya. Hutan-hutan banyak yang alih fungsi. Luas lahan hutan lindung berkurang dan alih fungsi jadi hutan produksi. Entah apakah Indonesia masih bisa dijuluki zamrud katulistiwa kalau kayak gini.

    BalasHapus
  13. Semoga masyarakat diberi kesadaran untuk mulai merawat hutan ya demi masa depan kita

    BalasHapus
  14. Sedih kalau Hutan Dumai itu jadi langganan kebakaran. Dan sepertinya Hutan Dumai sudah beralih kebun sawit. Bener ga sih kak?

    Adopsi Hutan perlu dilakukan untuk menghindari karhutla dan menanamkan kesadaran masyarakat.

    BalasHapus
  15. sebagai orang yang dulunya pernah tinggal di kota kecil yang cuma dekat dengan hutan, saya senang membaca pengalaman mba Iid pas tinggal di Dumai.

    Dan saya merasa keren sekali program adopsi hutan ini.

    Dan agak salfok sama burung yang paruhnya gede itu, itu juga keren...

    BalasHapus

Posting Komentar

Link Hidup tidak diperkenankan di sini.
Mohon untuk dimengerti
Terima Kasih ^_*

Berlangganan via Email