Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mpek-mpek Ibu Abu Kuliner Kota Dumai yang Dirindukan

mpek-mpek Ibu Abu kuliner Dumai yang legendaris dan dirindukan para alumni sekolah Dumai

Gaes..sahabat perempuan berbagi...

Setelah berjalan-jalan bernostalgia menyusuri kota Dumai , kota masa kecil saya, akhirnya kesampaian juga saya bisa menikmati salah satu kuliner Dumai yang melegenda ini. Kalau ditanya orang ini kan kuliner asli Palembang, koq ada di Dumai sih? Kalau ditanya ini sih saya gak begitu paham. Tapi konon katanya dulu itu banyak orang dari sumatera selatan dan sumatera barat yang transmigrasi ke kota Dumai, mungkin itu jawaban yang bisa saya pahami.

Konon kuliner Mpek-Mpek Ibu Abu ini sudah berdiri sejak tahun 1985 (red.setyoprabowo97.blogspot.com). Waktu itu menurut cerita orang, ibu Abu sebagai penjual masih menjajakan dagangannya dengan menggunakan gerobak. Setelah lama berjualan dan mampunyai banyak pelanggan akhirnya beliau berhasil membuka rumah makannya di jalan Ombak, Dumai sampai sekarang. 

Terus terang sih, saya sebenarnya baru kali ini beli ke rumah makannya langsung, karena dulu tuh yang suka beli ibu saya itu pun kalau ibu saya habis belanja di pasar Dumai setiap 2 minggu sekali, kalau gak ya sebulan sekali saja. Yah sekali sebulan gapapa deh menikmati kulinernya daripada setahun sekali. Tapi dulu itu saya kurang suka makan, paling icip-icip saja beda dengan dua saudara saya lainnya. Yah maklumlah saya waktu kecil emang kurang suka makan apa aja, sukanya makan ciki dan coklat wkwk, kelihatan kurang bergizi ya :p

Saat datang untuk membeli saya lihat tempatnya memang bersih, tante yang menemani saya beli pun bilang cuman tempat ini yang mengharuskan sendal dan sepatu dari luar dilarang masuk. Hanya boleh ditaruh di depan pintu saja, tapi kalau orangnya mah boleh lah, gimana mau beli kan ya :p. Terus saya juga melihat meja dan kursi pun jauh dari yang namanya debu, pokoknya komitmen sama kebersihan deh tempat ini.

Mpek mpek ibu abu kuliner dumai legendaris
Foto : dokumen pribadi

Karena saat saya ke sana lagi pandemi, jadinya tidak makan di tempat alias dibungkus saja meskipun saya lihat ada beberapa orang yang makan di tempat. Terlihat ada seorang ibu yang sudah kelihatan tua menghampiri saya, tidak yakin apakah beliau Ibu Abu atau masih kerabat dekatnya, menanyakan menu apa yang akan saya pesan.

Menu yang saya pesan adalah pempek kapal selam, pempek berukuran besar yang isinya telur. Harga pempek yang ditawarkan masih harga yang normal yaitu perporsinya Rp 17.000. Tidak ingat juga sih dulunya sekitar berapa mungkin masih di bawah harga Rp 5000,- karena saat itu belum memasuki resesi. Ukuran pempeknya tetap besar,gurih dan renyah. Rasa cukonya pun lemak nian. Rasa mungkin 100% masih original sepertinya.

Mpek mpek ibu abu makan di rumah kuliner dumai
Makan mpek mpek di rumah saja
Foto : dokumen pribadi

Menu di Mpek-mpek Ibu Abu lainnya yang tidak kalah enak adalah tekwan, menurut kabar menu tekwan juga paling banyak disukai para pembeli, kalau saya belum pernah beli sih, tapi mungkin setidaknya jadi tau menu favorit di Mpek-mpek Ibu Abu ini. Buat yang mau reunian bersama teman-teman tempat ini menurut saya cocok sekalian mengingat nostalgia masa lampau, sayangnya saya tak sempat bertemu teman-teman yang ada di Dumai karena pandemi ini, sudah buat keluarnya, hiks gapapa deh, kalau ada rezeki lain kali kita ketemu lagi ya sobs :)

Keripik Cabe Dumai

Kuliner lain di Dumai yang sempat saya coba ada keripik cabe atau keripik pedas manis khas Dumai. Sampai sekarang Dumai dikenal karena keripik cabenya yang rasanya khas ada pedas manisnya. Berbeda dengan keripik sanjai khas sumbar yang memakai gula putih dan disiram secara panjang hingga membentuk karamel. Keripik cabe khas Dumai olahannya dengan menggunakan cabe dan gula merah tapi tidak sampai membentuk karamel. 
Rasanya yang pedas, manis dan gurih membuat ketagihan.

Kalau dulu ada tempat pembuatan keripik cabe Laburoseng di Daerah pelabuhan Dumai, Laburoseng yang sebenarnya penulisan aslinya Labour housing merupakan tempat pembuatan keripik cabe yang tenar pada zamannya. Setiap rumah memiliki tempat untuk menjual keripik cabe tersebut dan selalu laris hingga dibawa untuk oleh-oleh ke luar kota. Namun kini hanya sedikit yang berjualan. Itupun rasanya tidak semantap dahulu. 

Keripik cabe khas dumai purnama ika maisatun jumi keripik laburoseng dumai
Keripik cabe khas Dumai

Sekarang sudah ada keripik cabe yang sudah bisa dibilang sebagai penggantinya, mungkin sudah bertahun-tahun juga dijual. Usaha keripik cabe UMKM di Purnama yang bernama IKA, lalu ada juga Maisatun dan Jumi. Soal pemilik, saya juga kurang yakin apakah pemiliknya sama atau berbeda-beda. Tetapi soal rasa hanya sedikit saja perbedaannya.

Air Akar khas Dumai

Air akar adalah minuman pelega dahaga yang paling saya suka. Minuman ini sebenarnya adalah cincau dingin yang diberi air jeruk di dalamnya atau santan encer. Rasanya yang adem di tenggorokan dipercaya sebagai obat panas dalam yang efektif di saat tidak enak badan atau udara panas. Kalau dulu keluarga saya malam-malam suka keluar dari rumah untuk ke kota hanya untuk minum air akar dan makan martabak mesir sebagai pasangannya.

Air akar khas dumai kuliner dumai air cincau air jeruk dumai
Air akar khas dumai

Karena dulu saya tidak doyan makan ya hanya melihat saja, sekarang kalau dipikir-pikir koq rugi banget ya gak dimakan, baru udah tua gini malah kepikiran mau makan macam-macam, haduh ingat umur jadinya kan ;(
Ngomongin kenangan kuliner masa lalu memang gak ada habisnya, pengennya bisa icip-icip kembali. Yah semoga lain waktu saya bisa ke sana dan mencoba kuliner Dumai yang lainnya :D

10 komentar untuk "Mpek-mpek Ibu Abu Kuliner Kota Dumai yang Dirindukan"

  1. wah sepertinya enak tuhh wisata kuliner makanan khas dumai, uwuu mantep lezat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups silahkan mampir ke Dumai :)

      Hapus
  2. Hallo salam kenal, artikel ini sangat bermanfaat untuk saya pribadi (setidaknya saya jadi paham bahwa Dumai yang saya pahami selama ini ternyata salah). Dumai ternyata salah satu tempat di sumatra, saya pikir "kata dumai" hanyalah istilah...dunia maya, eh ternayata membaca artikel ini baru saya tahu kalau kata "Dumai" merujuk pada suatu tempat, ya ampun, kayaknya main kurang jauh dan tidur kurang larut diriku ini hehhee, terima kasih mbak, sangat bermanfaat, saya suka artikel ini. Oh ya maaf saya tidak menyinggung soal kuliner karena saya membuka artikel ini karena kata "dumai". Sukses selalu ya, salam. Maaf jika ada kata dan kalimat yang kurang berkenan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak apa mas setidaknya jadi tau tentang Dumai melalui artikel ini :)

      Hapus
    2. Setuju mabk, sekaligus inilah manfaat dari blogwalking ada hal baru bisa kita ketahui secara tidak sengaja. Oh ya teh boleh tu buat artikel ringan judulnya "dumai bukan dunia maya tetapi ini" hehehe hanya usul teh, ini yang saya maksud jelaskan tipogarfi kota dumai, makanan khas dan objek wisata, sekaligus menegaskan kembali bahwa kata dumai yang dimaksudkan bukanlah istilah dunia malam melainkan nama sebuah tempat di sumatra hehehe...

      hanya usul teh, maaf jika tidak berkenan. Salam sukses dan tetap semangat...

      Hapus
    3. Terima kasih atas sarannya, mungkin akan jelas kalau saya tambahkan kata "kota dumai". Kalau kata dunia maya saya rasa orang jarang menyingkatnya jadi kata "dumay" melainkan memakai kata cyber atau online

      Hapus
  3. Baru tau kalo di Dumai juga ada yang jual Mpek-Mpek. Selain itu ada kuliner lainnya kayak kripik cabe dan air akar.

    Dulu saat ke Dumai cuma makan udang galahnya doang sih, belum nyobain kuliner lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kuliner udang galah juga ngetop di Dumai

      Hapus
  4. Belum pernah lihat keripik cabai. heran saja cabai bisa dibikin keripik, Biasanya keripik yang dikasih cabai. Ini unik banget.
    Banyak hal bisa dipelajari dari suatu kota lewat tulisan Dumai ternyata kaya dengan kuliner khas yang unik.

    Saya suka konsep tempat makan Abu itu karena jarang ada yang mengharuskan taruh alas kaki di luar. Biasanya masjid, doang Tapi suka banget dan jadi pengen makan di sana, hi hi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bukan dr cabai mba, tapi dari keripik ubi yang diaduk dengan cabe dan gula, ntah mengapa namanya keripik cabai ya mungkin biar kelihatan beda dari yang lain :D. Iya saya pun suka dengan prinsip kebersihan Ibu Abu

      Hapus

Berlangganan via Email