Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nostalgia Masa Kecil di kota Dumai

nostalgia kota masa kecil dumai komplek pertamina bukit datuk dumai

 Gaes, sahabat perempuan berbagi...

Bagaimana kabarnya kalian saat ini, kali ini saya mau cerita tentang perjalanan saya di bulan Oktober kemarin.

Dumai termasuk salah satu rencana saya untuk liburan pada resolusi dan keinginan di awal tahun 2020 ini. Rencana pada awalnya yakni saat pernikahan saudara yang jadwalkan bulan Agustus di Pekanbaru. Lalu setelah itu saya akan berjalan-jalan ke Dumai mengunjungi kota masa kecil yang tak terlupakan. Namun, rencana itupun gagal dilakukan karena pandemi yang tiba-tiba  muncul di bulan Maret lalu dan pernikahan saudara pun juga diundur karenanya.

Keinginan jalan-jalan ke sana pun terpaksa saya kubur dalam-dalam karena tidak tau pandemi akan berakhir sampai kapan dan atas tujuan apa saya bisa datang ke sana tidak masuk akal juga pastinya. Ada rasa sedih dan tidak ingin saya ingat lagi saat itu. Lalu kemudian paksu pun mendapatkan kembali pekerjaannya di tempat yang baru di bulan September kemarin dan asa pun kembali muncul. Takdir tiada yang tahu ya kan? rasa senang pun kembali menyeruak. Saya harus mewujudkan rencana perjalanan tak terduga ini sambil ikut menyusul paksu di tempat kerjanya yang baru mumpung anak masih belum sekolah, pikir saya waktu itu.

Tanggal 11 Oktober rencana untuk pergi ke Dumai saya tunaikan bersama dengan adik kandung saya karena dia pun juga rindu akan kota masa kecilnya. Perjalanan kami dengan menggunakan armada bus Bintang Utara Putra kelas Executive alias pakai AC. Perjalanan dari Medan ke Dumai menghabiskan waktu 12 jam, itu termasuk waktu istirahat selama 30 menit untuk makan malam dan singgah sebentar selama 5-10 menit untuk angkut penumpang di setiap 5-6 loket bus  setiap kota yang kami lewati. Kebayang dong yang membuat lama di jalan itu karena busnya sering berhenti, bukan karena panjangnya perjalanan yang mungkin bisa dikebut menjadi 8-10 jam.

Dumai kota yang penuh kenangan

Gaes, saya akan menceritakan sekelumit sejarah tentang kota Dumai ini ya...

Kota Dumai adalah salah satu kota di propinsi Riau. Awalnya Dumai merupakan salah satu bagian dari kabupaten Bengkalis. Tahun 1999, Dumai resmi menjadi kota mandiri di bawah propinsi Riau.
Jaraknya ke kota Pekanbaru, ibukota propinsi Riau memakan waktu 4-5 jam. Secara geografis Dumai bersebelahan dengan Bukit Batu, Duri, Bangko dan Kabupaten Bengkalis. Dumai merupakan kotamadya yang dikenal sebagai kota penghasil minyak bumi dan pelabuhan Dumai juga disebut sebagai gerbang ekspor minyak Indonesia ke negara tetangga (wikipedia). Ada 2 perusahaan minyak terbesar yang ada di Dumai, yaitu Pertamina dan Chevron.

Sudah 22 tahun saya tidak ke Dumai. Ada rindu yang mendalam ketika akhirnya kami (saya, adik dan anak saya) akhirnya sampai ke kota ini. Sebenarnya sudah berulang kali saya merencanakan untuk nostalgia di kota masa kecil ini, tetapi ada saja alasan yang membuat saya belum bisa mengunjunginya. Beruntungnya kali ini saya bisa ke sana , walaupun yah kondisi saat ini masih dalam kondisi pandemi, tetapi Allah SWT memudahkan semuanya..alhamdulillah.

Jalan kota dumai jalan sultan syarif kasim, toko tenaga muda, toko sari disikos, pak datuk, rofina
Jalanan kota Dumai
Foto : dokumen pribadi

Di Dumai, saya menginap di tempat saudara dekat yang tinggal di Bumi Ayu selama seminggu, sebelum saya memulai kembali perjalanan dengan anak saya ke Pekanbaru dan Prabumulih. Di Dumai kami melakukan napak tilas tempat-tempat yang pernah kami lewati untuk sekedar makan, belanja atau jalan-jalan di sore hari bersama paman sewaktu kecil. Tempat-tempat itu antara lain : Jalan kota Dumai, Kilang Pertamina UP 2 Dumai, Kripik cabe Laburoseng , Mpek mpek Ibu Abu, dan Bukit Datuk sebagai tempat paling utama yang paling kami kunjungi.

Jalan Kota Dumai

Setiap sudut jalan kota di Dumai saya teringat kembali akan 22 tahun silam ketika masih di bangku sekolah, berjalan-jalan dengan mama dan paman sambil naik mobil untuk mampir beli buku pelajaran dan buku komik di toko buku Tenaga Muda, beli alat kerajinan tangan untuk pelajaran seni di Sari Disikos, makan mie ayam pangsit di sebelah Rofina, makan mi bakso di jalan Sukajadi, makan pempek di Ibu Abu jalan Ombak, makan siang di Rm. Padang Pak Datuk, belanja cemilan import di Rofina, dan beli gorengan di Pasar Pulau Payung. Semuanya masih teringat jelas di memori. Mungkin hanya sebagian kecil yang terlupakan karena saya suka lupa akan nama jalan wkwk..

Kilang Pertamina UP 2 Dumai

kilang putri tujuh up 2 dumai, pertamina refinery unit putri tujuh dumai
Kilang Putri Tujuh Up II Dumai
Foto : dokumen pribadi


Kilang Pertamina Puteri Tujuh UP (Unit Pengolahan) 2 Dumai atau dalam bahasa inggrisnya Refinery Unit (RU) yang merupakan salah satu icon kebanggaan orang Dumai. Kalau kata orang Dumai dulu, tidak tau kilang Dumai berarti bukan orang Dumai namanya. Menurut informasi kilang UP 2 Dumai dibangun di tahun 1969 dengan kerjasama Turn Key Project antara Pihak Pertaminda dan Far East Sumitomo Japan. Up 2 Dumai merupakan unit pengolahan Pertamina terbesar di pulau Sumatera dan memasok sekitar 23% kebutuhan minyak nasional (sumber : Joko Yuwono, Google local guide). Saya suka banget lihat kilang minyak yang besar-besar bangunannya dan api yang disembur ke atas, tempat liburan bagi saya sewaktu masa kecil dulu. Sekarang tidak boleh sembarangan yang masuk ke tempat ini, karena harus ada surat keterangan Rapid test dahulu.

Bukit Datuk

Bukit Datuk merupakan komplek Pertamina yang tujuannya untuk tempat tinggal dinas karyawan Pertamina Dumai, baik yang kerja di Darat ataupun di laut (khusus pelaut). Saya Tinggal di Bukit Datuk selama 7 tahun lebih dari bangku 3 SD sampai kelas 1 SMA.

Saat di bangku sekolah, saya bersekolah di SD 1 YKPP, SMP YKPP dan SMA YKPP. Banyak kisah seru tentang masa kecil di sini, dari kegiatan pertemanan anak-anak komplek sampai cinta monyet. Sebagian teman masih berkomunikasi hingga kini dan telah berkeluarga.  Sebagian telah pindah ke kota lain di Pulau Sumatera, Jawa bahkan sampai Kalimantan. Sebagian lainnya tidak jelas keberadaannya.

SD 1 YKPP bukit datuk dumai sekolah sd favorit
Foto di depan SD 1 YKPP Bukit Datuk
Foto : dokumen pribadi

Agak sedih juga melihat kondisi rumah yang saya tempati dulu karena sekarang sudah tidak berpenghuni. Memang sekarang saya lihat penghuni di komplek tidak sebanyak dahulu. Entah karena sepi karena dekat dengan hutan lindung Dumai atau karena rawan pencurian karena dekat juga dengan kampung kecil Dumai. Kalau dulu semua fasilitas tersedia gratis tinggal menunjukkan ID tempat tinggal aja, fasilitasnya berupa kolam renang, bioskop dan tempat menonton konser artis ibukota. Kalau sekarang tidak tahu juga apa masih gratis atau sudah berbayar. 

komplek rumah pertamina bukit datuk dumai riau blok b
Komplek rumah Bukit Datuk
Foto kiri-kanan atas rumah saya
Foto : dokumen pribadi

Dulu rumah saya berada di pinggir jalan di jalan Flamboyan blok B 159, berseberangan dengan Blok BB depan rumah. Di sebelah kiri rumah terdapat lahan kosong yang cukup luas hampir sama luasnya dengan luas rumah. Kalau dulu lahan yang kosong tersebut dipakai untuk berkebun mulai tanam jagung, singkong, terung, cabe, tomat, sampai pohon rambutan dan pohon nangka. Sekarang malah sudah jadi seperti hutan penuh semak belukar karena tidak dirawat sama kompleknya, jadinya rada merinding juga pas mau mendekati rumah takut ada ular :D

Jadi ingat di sekitar rumah banyak tumbuh pohon yang besar-besar seperti pohon flamboyan, pohon tanjung dan akasia dan juga berada di sepanjang jalan menuju sekolah yang jaraknya hampir 500 meter. Membayangkan pohon-pohon tersebut bakalan tumbang saat sekolah dulu, tapi kenyataannya sampai sekarang masih berdiri tegak padahal sudah bertahun-tahun lamanya tumbuh. 

Kuliner Dumai

Kuliner dumai legenda mpek mpek ibu abu dan oleh oleh keripik cabe ika
Kuliner Dumai mpek mpek Ibu Abu
Foto : dokumen pribadi

Kuliner Dumai yang sempat saya icip kemarin yaitu Mpek-mpek Ibu Abu, kuliner yang masih melegenda sampai sekarang. Selain itu sempat juga saya datangi tempat jualan kripik cabe laburoseng Dumai (tulisan sebenarnya Labour housing ;p). Kalau dulu kripik cabe laburoseng merupakan primadona oleh-oleh Dumai yang enak dan pedas, tapi sekarang usaha tersebut jauh kalah laris dengan usaha kripik cabe usaha UMKM di Purnama, Dumai seperti kripik cabe IKA, Maisatun dan Jumi yang sudah dikenal oleh khalayak bahkan sudah dijual juga di E-commerce.

air akar dumai keripik peda kripik cabe kuliner khas dumai
Air akar dan kripik cabe khas dumai

Selain itu saya sempat minum minuman khas Riau air akar atau cincau yang diberi air jeruk atau santan didalamnya. Air akar biasanya diminum untuk panas dalam dan melegakan tenggorokan. Kalau dulu saya kurang suka meminumnya entah mengapa sekarang jadi suka, mungkin karena sudah jadi emak2 ya butuh yang minuman adem :) Sayang makanan lainnya seperti lempok durian dan dodol nanas belum sempat saya coba karena waktu yang gak memungkinkan.

Terus terang karena waktu saya berada di Dumai pas saat pandemi otomatis tidak banyak hal yang bisa saya lakukan karena menunggu saat yang pas untuk keluar rumah. Mungkin butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa menyusuri kota Dumai ini ya. Hmm, semoga setelah pandemi berakhir saya dan keluarga kecil dapat kembali mengunjungi kota masa kecil ini lagi atau mungkin reunian kembali dengan teman-teman saat sekolah dulu.

Dumai ke Pekanbaru lewat Jalan Tol

Rencana awal memang saya ingin berangkat ke kota Prabumulih melalui Dumai. Namun karena minimnya informasi, ternyata rute dari Dumai ke Prabumulih belum ada. Jadinya saya terpaksa putar haluan ke Pekanbaru. Untungnya saya pun memiliki saudara di Pekanbaru. Alhasil saya pun jadi mengunjungi kota Pekanbaru untuk merencanakan keberangkatan dari Pekanbaru - Prabumulih sekalian silahturahmi menginap di tempat saudara selama 1 minggu. Ketika ke Pekanbaru, kami melewati jalan tol yang baru saja dibuka dua minggu yang lalu dan masih gratisss. Yha, pastinya seneng benget kan kalau denger kata gratis. Mumpung belum bayar kata saudara saya masih enak jalan ke Dumainya, hehe iya juga ya. Next destination..Pekanbaru..

Fabiayyi ‘aalaa’i Robbikumaa Tukadzdzibaan..

Maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan..Bersyukur dan nikmatilah perjalanan ini selagi engkau mampu menjalaninya...



16 komentar untuk "Nostalgia Masa Kecil di kota Dumai"

  1. Aku dulu stay di Dumai 18 THN, tapi JALAN DUMAI :D. Krn papaku dulu jg kerja di oil and gas company di Arun Aceh, jd KOMP perumahannya di ksh nama kota2 minyak. Aku tinggalnya di Jl. Dumai. Tapi sampe skr blm prnh liat Dumai yg asli seperti apa :).

    Kalo udh visit tempat2 penuh nostalgia gini, rasanya sedih dan happy ya mba :). Sedih kalo inget skr udh kosong tempatnya, ga terlalu terurus kayak pas masih jaya2nya. Tp gembira kalo inget kita dulu ngapain aja di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk kirain emang beneran si kota Dumai mba, taunya di jalan Dumai, itu di Lhokseumawe mba saya pernah ke kompleknya dulu, iya mba rata2 pasti komplek kayak gitu dulu masih jaya2nya dirawat sepenuh hati sekarang dibiarkan begitu aja tak terawat, iya mba masih belum puas nih jalan2nya ke sana :)

      Hapus
  2. saya baru pertama kali ada nama tempat dumai, saya kira dumay (dunia maya) hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, Du-may yang ikut2an nama Dumai ini, dari dulu sudah ada nama kotanya jadi nambah pengetahuan kan mas :)

      Hapus
  3. Yes apa yang saya usulkan melalui sebuah komentar di salah satu postingan blog ini sudah terjawab melalui tulisan ini. Diceritakan secara lengkap tentang kota Dumai di Riau, sebuah catatan perjalanan di masa lalu, dilengkapi denga quotes yang cukup yahud "....Bersyukur dan nikmatilah perjalanan ini selagi engkau mampu menjalaninya..." dan kata saya hidup adalah perjalanan, abadikan semua kisah dalam aksara, maka percayalah generasi sesudah kita akan mengenangnya. Kata yang terucap akan lenyap namun yang tertulis pasti abadi...

    BalasHapus
  4. Asyik banget menjelajahi tempat-tempat penuh kenangan masa kecil ya kak. Aku kemarin sekedar lewat aja di Dumai, padahal rame juga kotanya ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kk, kalau cuman lewat saja gak kelihatan kotanya karena beda pintu hihihi :p

      Hapus
  5. Rumahnya bagus dengan halaman luas gitu. Sedih lihat tempat demikian tidak terawat. Sejuk dan teduh, Jadi ngebayangin Kayak lingkungan Edward Cullen. Hi hi.
    Pantesan di sana suka ada hewan buas nyasar, tempatnya ideal.
    Semoga ada rezeki dan kesempatan untuk lakukan perjalanan lagi di masa mendatang. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, pengen banget kembali jalan2 ke sana tapi lebih enakan kalau lengkap sama suami keluarga kecil

      Hapus
  6. Pertama tahu Dumai saat melewatinya dulu waktu kuliah ke Jogja. Dumai kan salah satu kota yang berada di ruas jalan lintas Sumatera. Wah Iid pernah tinggal di Dumai ya... Senang sekali bs napaktilas ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah berarti kk ke Jogja lewat jalur darat ya, lama juga itu perjalanannya ya kak

      Hapus
  7. Seru ya kak, bernostalgia dengan kota masa kecil. Awak selalu di Medan terus. Gak pernah pindah kemanapun. Jadinya gak bisa nostalgiaan. Komplek kakak Mirip juga kondisinya kayak perumahan PT Arun di Lhokseumawe. Udah sepi banget

    BalasHapus
  8. aku pengen explore sumatra, selama ini masih masuk cita cita dulu aja :)
    aku penasaran cincau dikasih air jeruk, di jawa nggak ada paduan kayak gini kayaknya, penasaran

    BalasHapus
  9. Seneng ya kak bisa "pulang". Api yg ada di kilang minyak ngingetin saya sama PT Arun di Lhokseumawe, tiap kali pulang ke kampung papa selalu lewat situ dan selalu seneng liat api di menaranya. Jadi kangen pulang kampung..

    BalasHapus

Berlangganan via Email