Daftar Isi
Pengembangan kota di Indonesia kini tidak hanya berbicara tentang membangun jalan, gedung, atau fasilitas umum. Pemanfaatan teknologi dan data juga semakin penting untuk memahami kebutuhan masyarakat serta mencari solusi atas berbagai persoalan perkotaan.
Hal inilah yang menjadi salah satu fokus kolaborasi Karsa City Lab dan Google, melalui ‘abah’ Anies Baswedan dan Kent Walker yang belum lama ini bertemu dan melakukan MoU dalam upaya mengembangkan sembilan kota dan wilayah di Indonesia.
Kerja sama ini diarahkan untuk membantu menghadirkan pendekatan berbasis data dalam menghadapi berbagai tantangan perkotaan, mulai dari mobilitas hingga lingkungan dan perekonomian.
Lantas, kota mana saja yang masuk dalam program tersebut dan apa saja fokus pengembangannya?
Kolaborasi Apik dan Fokus 9 Kota Pilihan

Pic : @karsa.citylab
Kolaborasi Karsa City Lab dan Google mencakup sembilan kota atau wilayah di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Solo, Medan, Malang, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali.
Kesembilan wilayah tersebut memiliki karakteristik dan persoalan perkotaan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pengembangan kota tidak dapat dilakukan dengan satu solusi yang sama untuk semuanya.
Data dan teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk memahami kondisi setiap wilayah secara lebih terukur. Dari informasi tersebut, pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dapat melihat persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
1. Mendorong Mobilitas Perkotaan
Salah satu fokus utama kolaborasi ini adalah persoalan mobilitas masyarakat di perkotaan.
Kota yang terus berkembang membutuhkan sistem transportasi yang mampu mendukung aktivitas masyarakat. Persoalan seperti kemacetan, akses transportasi umum, konektivitas antarkawasan, hingga perjalanan dari tempat tinggal menuju transportasi umum menjadi bagian penting dalam perencanaan kota.
Karsa City Lab sendiri memasukkan isu seperti transportasi publik, complete street, kemacetan, serta konektivitas first mile dan last mile dalam perhatian mereka terhadap persoalan perkotaan.
Dengan pemanfaatan data geospasial dan teknologi, kondisi mobilitas dapat dipelajari secara lebih mendalam. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi bahan untuk merancang kebijakan maupun solusi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing kota.
2. Membangun Kota yang Lebih Ramah Lingkungan
Selain transportasi, persoalan lingkungan juga menjadi perhatian. Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di perkotaan dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan. Pengelolaan sampah, air bersih, air limbah, ruang terbuka hijau, hingga mitigasi bencana merupakan beberapa persoalan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Pemanfaatan data dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi suatu wilayah. Dengan demikian, perencanaan lingkungan tidak hanya mengandalkan perkiraan, tetapi dapat didukung oleh informasi yang lebih terukur.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
3. Memperkuat Ekonomi Kota
Kota yang berkembang juga membutuhkan aktivitas ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, pengembangan ekonomi menjadi bagian lain dari perhatian Karsa City Lab. Kota tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat untuk bekerja, menjalankan usaha, dan mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi.
Pemanfaatan teknologi dan data dapat membantu melihat karakteristik ekonomi suatu wilayah serta kebutuhan masyarakatnya. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam merancang strategi pengembangan ekonomi lokal.
Dengan pendekatan seperti ini, pembangunan kota diharapkan tidak hanya menghasilkan perubahan fisik, tetapi juga memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat.
Peran Google dalam Kolaborasi
Dalam kerja sama ini, Google disebut membawa wawasan teknis dan data geospasial, sementara Karsa City Lab memiliki peran dalam menghubungkan pendekatan tersebut dengan pemerintah kota dan komunitas.
Kolaborasi ini menjadi menarik karena persoalan kota tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi.
Teknologi memang dapat membantu menyediakan data dan informasi, tetapi masyarakat dan pemerintah daerah tetap memiliki pengetahuan mengenai kondisi nyata di lapangan.
Karena itu, perpaduan antara data, teknologi, pemerintah, komunitas, dan pengetahuan lokal menjadi bagian penting dalam pendekatan pengembangan kota.
Bukan Sekadar Membangun Infrastruktur

Pic : @karsa.citylab
Konsep pengembangan kota melalui pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa kota masa depan tidak cukup hanya dibangun dengan infrastruktur fisik.
Jalan yang lebih baik, misalnya, perlu disertai sistem mobilitas yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Begitu juga dengan pembangunan kawasan perkotaan yang perlu memperhatikan lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Karsa City Lab memiliki pendekatan sebagai urban innovation lab yang mendorong kolaborasi dan pendekatan multidisiplin dalam menghadapi persoalan perkotaan.
Salah satu pendekatan yang pernah dikembangkan adalah Participatory City Governance (PCG), yaitu pendekatan yang melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan, merumuskan tantangan, merancang solusi, hingga menguji solusi kebijakan.
Kolaborasi ini dapat menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dan data digunakan untuk membantu memahami persoalan perkotaan, sementara keputusan mengenai kebijakan dan penerapannya tetap membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah serta masyarakat.
Pada akhirnya, kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki teknologi canggih. Kota yang baik juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakatnya, menyediakan lingkungan yang nyaman, memiliki mobilitas yang baik, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang secara ekonomi.
Kolaborasi Karsa City Lab dan Google di sembilan kota Indonesia menjadi langkah yang menarik untuk melihat bagaimana data, teknologi, dan partisipasi masyarakat dapat dipertemukan dalam menghadapi tantangan perkotaan di Indonesia. Yuk kita dukung agar program ini berjalan dengan lancar, karena perbedaan karakteristik setiap kota membuat kebutuhan pengembangan tentunya juga berbeda.


