Daftar Isi

Pic : visitgifu.com
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis artikel tentang hidup slow living di desa, di mana desa merupakan tempat yang ideal buat konsep bergaya minimalis dan hidup hemat. Akan tetapi masih saja orang yang bertanya-tanya akan arti hidup slow living sepenuhnya.
Konsep hidup slow living adalah gaya hidup yang berfokus pada menjalani kehidupan dengan lebih pelan, sadar, dan seimbang, sebagai respon terhadap pola hidup modern yang serba cepat dan penuh tekanan. Nah, dalam hal ini saya menganggap hidup slow living itu sangat cocok di pedesaan, karena memang bertolak belakang dari konsep hidup di perkotaan.
Inti dari Gaya hidup slow living
- Menjalani hidup dengan menghargai setiap prosesnya, tanpa harus terburu-buru dengan hasil yang akan dikejar.
- Memprioritaskan kualitas di atas kuantitas, baik dalam pekerjaan, hubungan maupun interaksi dalam bermasyarakat dan pengalaman hidup yang akan dihadapi
- Mengurangi hal-hal yang tidak perlu, baik barang, aktivitas, maupun beban pikiran. Fokus pada yang esensial dan kesederhanaan
- Hidup lebih tenang dan nyaman, menyadari apa yang sedang dilakukan dan menikmati tapi dengan penuh keseimbangan
- Jalani hidup sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi dan bukan hanya untuk tren semata.
Bagaimana dengan Gaya Hidup Slow Living di Luar Negeri ?
Gaya hidup slow living di berbagai negara biasanya dipengaruhi oleh budaya lokal, lingkungan, dan cara masyarakat memandang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi
Gaya hidup slow living berkembang di banyak negara, terutama yang menekankan kualitas hidup, keseimbangan, dan koneksi dengan alam.
Rekomendasi Negara yang Terkenal dengan Gaya Hidup Slow Living
Berikut adalah beberapa negara yang dikenal menerapkan gaya hidup slow living dan juga rekomendasi pedesaan nya
1. Jepang
Budaya “Zen dan Ikigai” (makna hidup) mendorong hidup yang tenang dan seimbang. Warga Jepang sendiri fokus pada kesederhanaan, keterhubungan dengan alam, dan ritual harian seperti minum teh atau merawat taman.
Hampir semua daerah wilayah Jepang seperti di pedesaan sangat cocok untuk hidup slow living. Khususnya di wilayah Kyoto, Nara, dan Okayama.
2. Denmark
Konsep hidup “Hygge” (kenyamanan dalam kesederhanaan) sangat identik dengan hidup slow living. Orang Denmark mengutamakan keseimbangan hidup, waktu untuk keluarga, dan menikmati hal-hal kecil.
Daerah wilayah Denmark yang cocok untuk hidup slow living yang dekat dengan alam dan tenang adalah wilayah Funen, Jutland dan Bornholm.
3. Finlandia

Pic : TvN
Memiliki konsep hidup “Sisu”, yang berarti ketahanan, kekuatan kemauan, dan kemampuan untuk mengatasi kesulitan. Alam dianggap memiliki pengaruh penting untuk kesejahteraan dan kesehatan mental. Makanya banyak warga Finlandia menghabiskan sebagian besar waktunya di luar ruangan.
Daerah wilayah Finlandia hampir sebagian besar adalah hutan dan perkebunan, dengan mengelilingi perkotaan yang ada di tengah wilayah. Oleh karenanya wilayah yang sangat cocok untuk hidup slow living seperti di Oulu, Kuusamo, Posio dan Rovaniemi.
4. Italia
Filosofi “la dolce vita” atau “hidup manis” menekankan menikmati momen, makanan, dan kebersamaan. Juga lahirnya gerakan slow food sendiri adalah berasal dari Italia. Kedua hal ini ternyata saling berkaitan.
Oleh karenanya rata-rata warga menikmati makanan buatan rumah, makan bersama keluarga, dan menghargai waktu istirahat. Daerah wilayah pedesaan di Italia yang cocok untuk hidup slow living adalah di Tuscany dan Umbria.
5. Selandia Baru
Alam yang indah dan masyarakat yang santai membuat banyak orang menjalani hidup dengan ritme lambat. Banyak penduduk memilih tinggal di desa atau kota kecil untuk menghindari hiruk pikuk kota besar.
Hampir semua wilayah di Selandia Baru menawarkan konsep hidup slow living. Namun pulau Waiheke adalah yang terbaik karena jauh dari hiruk pikuk kota. Ketenangan dan keindahan alam adalah keunggulan pulau Waiheke.
6. Swedia
Konsep “Lagom” (tidak berlebihan, cukup) mendukung slow living. Penduduk menyeimbangkan pekerjaan dan waktu pribadi dengan sangat baik, serta menjaga hubungan dekat dengan alam.
Daerah pedesaan di Swedia rekomendasi untuk hidup slow living adalah Hogvalen, Bohuslan, Oland dan Vasterort.
7. Portugal
Komunitas kecil dan kehidupan desa mendukung pola hidup yang lebih lambat dan bermakna. Gaya hidup sederhana, relaks, dan tradisional masih sangat dijaga sampai sekarang.
Daerah wilayah Portugal yang jauh dari perkotaan sangat cocok untuk hidup slow living seperti di Alentejo.
8. Indonesia
Di banyak desa, masyarakat masih hidup dengan ritme yang lambat dan seimbang. Konsep hidup selaras dengan alam dan spiritualitas
Hampir semua daerah pedesaan di Indonesia mendukung gaya slow living. Seperti Sumatra, Jawa, Bali dan Lombok. Hindari tinggal di daerah berkonflik dan tidak mendukung gaya hidup kesederhanaan



4 Comments. Leave new
Sesuai tebakan, Jepang menempati urutan pertama. Aku pernah melihat video suasana pedesaan di Jepang, memang cocok untuk hidup slow living. Tertarik juga untuk menjalani hidup seperti itu, apalagi kalau sedang hectic ngurus persiapan anak-anak sekolah di pagi hari. Bawaannya langsung pengen menyepi sambil minum teh.
Jepang dan finlandia ini salah satu negara yang sangat menghargai kehidupan slow-living dan pendekatan kehidupan berbasis alam. Kalau di Jepang seingatku ada konsep Zen yang lekat dengan keseimbangan alamnya. Dan satu lagi, negara Swiss. Negara yang di pedesaannya menerapkan slow-living juga. 😀
Negara seperti Jepang, Italia, dan Portugal terbukti tidak hanya asyik dikunjungi, tapi juga mengajarkan kita tentang hidup pelan, penuh makna, dan seimbang dalam takarannya. Gaya hidup slow living di sana mengingatkan bahwa menikmati setiap momen dan mendahulukan kualitas itu jauh lebih bernilai daripada mengejar cepatnya hasil.
aku penasaran sama Finlandia dan Selandia Baru, meskipun mungkin agak susah buat resident permanent disana, minimal menginjakkan kaki dan merasakan jadi warloknya beberapa hari udah bikin seneng
rasanya kalau slow living gitu, kita kayak ga diburu-buru waktu, dan tetep ngerjain kerjaan asal tepat waktu ya. Penasaran