Daftar Isi
Beberapa bulan belakangan ini saya dihadapkan oleh suatu pilihan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Yaitu hidup Slow Living di desa atau dalam bahasa suku saya tinggal di kampung halaman. Kampung halaman yang dimaksud, adalah tempat di mana orang tua saya tinggal dahulu, di masa kecil dan masa remajanya.
Setiap kami (saya dan keluarga) sedang berlibur, kami selalu tinggal di kampung yang suasananya sangat asri tersebut. Aroma laut yang menyegarkan, suara deburan ombak yang mengalun dengan merdu dan sejuknya udara pagi membuat saya betah berlama-lama untuk berlibur di sana.
Setelah beranjak dewasa dan karena adanya kesibukan, kampung halaman jadi jarang kami singgahi. Namun meski jarang, ternyata orang tua tetap berhubungan dengan kampung halaman bahkan membeli sebidang tanah untuk berkebun, sebagai investasi di masa tua.
Seiring waktu ketika orang tua mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan kami anak-anaknya, kami secara tidak langsung harus mengurus kebun orang tua agar tidak terbengkalai. Pikir saya mengurus kebun dari jarak jauh akan mudah dilakukan. Tapi ternyata tidak. Banyak sekali hal-hal yang tidak terduga kalau saya tidak mengurusnya secara intens layaknya orang tua mengurus kebunnya.
Karena hal tersebut, mewakili saudara saya lainnya, akhirnya saya dan suami pun tergerak hati untuk mengurus kebun milik orang tua, agar tidak jatuh lagi di tangan yang salah. Karena saya dan keluarga sudah pernah mengalami rasanya ditipu keluarga sendiri ketika mereka mengurus dan akhirnya membeli tanah orang tua di harga yang sangat murah dan tentu saja ini merugikan.
Hidup Slow Living di Desa, Mampukah Saya?

Dengan memilih tinggal di Desa, berarti saya pun harus memilih konsep hidup Slow Living agar sesuai dengan keinginan. Kalau dulu kan hanya berlibur saja, tidak tinggal selama lebih dari 2 pekan di sana. Jadi tidak tau bagaimana rasanya beneran tinggal di desa sampai berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun hmm..
Hidup Slow Living itu apa sih sebenarnya?
Kalau menurut Google dan si-AI bilang, Slow Living itu adalah gaya hidup yang menekankan pada kesadaran, ketenangan, dan kualitas hidup daripada kecepatan dan produktivitas berlebihan.
Ciri-ciri Hidup Slow Living :
- Menjalani hidup tanpa terburu-buru
- Prioritas pada kualitas
- Hidup sederhana
- Koneksi dengan alam
- Menikmati setiap prosesnya
Tentu saja ini akan dirasakan jika saya telah betah tinggal di kampung, ya kan? Bagaimana kalau TIDAK BETAH ?
Pindah ke kampung yang awalnya terasa agak ringan ternyata banyak juga yang akan saya dan suami pikirkan. Hidup Slow living di desa, siapa yang gak mau sih? Hidup nyaman, jauh dari kebisingan, dan harga bahan makanan tentu lebih murah. Tapi ternyata tidak semudah itu hidup Slow Living yang akan saya jalani nantinya.
Faktor Eksternal Kendala Hidup Slow Living di Desa

Ada faktor eksternal yang tentu saja membuat saya masih bertanya-tanya, bisa tidak saya tinggal di sana? Faktor eksternal itu antara lain :
Wilayah yang Agak Terisolir
Desa atau kampung yang akan ditempati itu adalah sebuah Pulau, yang tentu saja wilayahnya agak sedikit terisolir bila angkutan umum tidak bekerja sama sekali. Ini sudah tidak bisa diubah.
Pembangunan Jalan Tidak Merata
Medan yang akan dilalui ternyata lebih berat karena pembangunan jalan yang tidak merata. Kondisi jalan akan semakin parah bila hujan datang, karena jalan menjadi becek, akses menuju pelosok kampung dan kebun yang agak syulit..
Pasokan Listrik Tidak Merata
Ini tentu sudah menjadi rahasia umum. Pasokan listrik tidak merata bila sudah masuk desa, gak tau apa penyebabnya. Katanya listrik sudah masuk desa, tapi kenapa hanya segelintir yang merasakan manfaatnya selama 24 jam? Di kampung saya, listrik bisa mati 3 kali sehari layaknya minum obat.
Koneksi Telepon dan Internet yang Tidak Stabil
Sudah jadi rahasia umum pula, koneksi telepon ataupun internet yang merupakan kebutuhan utama warga perkotaan yang bisa dibilang tidak stabil di sini. Juga dominasi operator milik plat merah yang hadir, namun tidak diperkuat dengan sinyal yang baik.
Sebenarnya masih ada kendala-kendala lainnya yaitu akses fasilitas publik yang masih kurang, yang meliputi : akses kesehatan yang layak, akses pendidikan yang lebih baik, transportasi yang kurang memadai. Juga ketersediaan barang sandang dan papan yang sekarang ini bukan lagi kebutuhan sampingan menurut saya yang sudah terbiasa tinggal di kota seperti itu.
Hmm..saya rasa cukup sekian dulu..masih banyak ternyata yang mengganjal di hati ketika dihadapkan untuk hidup Slow Living ini. Bagaimana dengan kamu bila dihadapkan dengan kondisi seperti ini? Adakah perubahan yang kamu inginkan?




5 Comments. Leave new
Hidup slow living di desa setelah lama terbiasa dengan fasilitas di kota, aku belum berani mbak. Makanya aku salut kalau ada yang bisa melakukannya. Karena aku sendiri nggak kuat banget. Karena beradaptasi dengan Hal baru, mulai dari nol lagi itu bukan perkara mudah. Semoga mbak tetap bertahan dan semangat menjalani slow living di kampung ibu.
Kalau masih punya anak sepertinya nggak mampu mbak Id. Jujur kalau hidup slow living itu menurut saya lebih cocok untuk program masa tua bahagia. Karena alm. bapak dan ibu dulu juga sempat slow living di kampung halaman bapak, yang mana itu mau kemana-mana aja pake jalan kaki. Tapi secara akses kesehatan dan pasokan listrik masih ada. Cuma untuk saat ini ya, belum siap apalagi punya anak sekolah dan butuh banyak hal dari wilayah perkotaan. 😀
hmm untuk saat ini saya belum siap sih mbak, jika sejenak berlibur oke lah menepi sejenak ke desa, melepas keruwetan sejenak. KAlau sudah pensiun mungkin akan kami pikirkan lagi
Hidup di desa itu menyenangkan. Aman, damai tidak grasa grusu…semua bisa terplot dengan baik sesuai rencana. Gak berisik gak ramee…
Indahnya slow living
aku kalau liat berita tentang kehidupan slow living orang lain di desa, liatnya kayak tenang gitu. Dalam hati cuman bilang, enak ya, tenang, ga keburu-buru
tapi kehidupan sekarang yang menuntut kudu cepet, kerja kudu sat set juga, hampir tiap hari mengandalkan internet, kayaknya untuk sekarang hidup slow livingbelum siap juga aku